Pengantar Tugas Ketua PA Sumenep dan Rihlah Ilmiah

“Sekali dayung dua pulau terlampaui”, mungkin itulah pepatah yang pas untuk menggambarkan kegiatan mengantar tugas Bapak Drs. Marwan, M.H. ke Sumenep sambil wisata pantai sekaligus mempelajari budaya Madura.

Adalah Ibu Ketua PA Gresik (Hj. Atifaturrahmaniyah, S.H.) yang mempunyai ide cerdas tersebut yang tentunya disambut gembira oleh seluruh anak buahnya yang ikut dalam rombongan. “Perjalanan ke Sumenep itu jauh, akan lebih baik jika juga dimanfaatkan melepas stress selah setahun berjibaku dengan berkas, apalagi sudah sekian lama kantor tidak pernah mengadakan acara seperti ini,” cetus Bu Ketua.

Rombongan bertolak dari Kantor PA Gresik pada hari Kamis (27/12) sekitar pukul 13.00 WIB, kendatipun sejatinya acara inti pisah sambut baru dimulai esok hari (Jum’at), namun mengingat perjalanan panjang agar tidak diburu waktu Bu Ketua menghendaki berangkat lebih awal karena rute pertama yang harus disinggahi adalah mampir ke wahana wisata “Api Tak Kunjung Padam” Pamekasan, tepatnya di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan yang terletak di belakang Kantor Pengadilan Agama Pamekasan, atau 4 km kea rah selatan dari kota Pamekasan. Jengkah begitu masyarakat menyebut tempat wisata ini. Konon mitos asal usul terbentuknya “api tak kunjung padam ini”, menurut cerita rakyat disana, kenapa daerah tersebut dapat memancarkan nyala api yang tak pernah mati adalah berawal dari seorang pemuda bernama Hadagi yang belajar agama islam. dan kemudian ia menyebarkan ajaran islam didesa larangan tokol tersebut. karena kepandaiannya ia memperoleh julukan “Ki Moko” dari warga sekitar. suatu ketika Ki Moko ingin mempersunting seorang putri Palembang dengan mas kawin berupa mata ikan yang ia dapatkan di sungai timur. ikan itu sejenis lele yang kata orang Madura disebut dengan juko’ ketteng (Bahasa madura). kemudian mata ikan itu dibawa untuk dipersembahkan kepada putri palembang sebagai mas kawinnya. peristiwa ajaib pun terjadi, mata ikan itu berubah menjadi mutiara.

Kemudian pesta pernikahan pun dilangsungkan tepat di bawah pohon Palembang, karena keadaan yang gelap, maka Ki Moko menancapkan tongkatnya ke tanah. Peristiwa ajaib pun kembali terjadi. seketika itu muncullah api dari bekas tancapan tongkat tadi. dan titik api itulah yang hingga kini masih terus menyala dan dinamakan dengan api tak kunjung padam.

Usut punya usut ternyata tanah dikawasan itu mengandung belerang yang kemudian bergesekan dengan O2, maka terjadilah fenomena api menyala yang tak kunjung padam itu. Sebenarnya terdapat dua tempat dimana api abadi itu menyala dan masih dalam satu kawasan yang berdekatan. yang pertama berada ditempat yang biasa dikunjungi para wisatawan, baik lokal maupun asing dan disebut dengan Apoy Lake (Api laki-laki). Satunya berada tepat didekat pintu masuk (di tengah sawah) yang biasa disebut dengan Apoy Bine’ (Api wanita). selain itu kawasan itu juga terdapat sumber air yang mengandung belerang, konon katanya bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit kulit. tapi sekarang sumber air itu sudah tidak ada lagi karena pipanya macet.

Setelah puas menikmati pesona fenomena alam ini, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Rumah Tahfidz milik Bu Ketua, rumah tersebut selama ini dikelolah bersama dengan Pondok Pesantren Al-Karomah yang dihuni oleh para santri yang ingin memperdalam ilmu agama khususnya menghafal al-Qurán. Kunjungan ini mengingatkan Para Hakim yang ikut rombongan mengenang masa remaja ketika berjibaku menimba ilmu di pesantren, maklum seperti Pak Affan, Pak Asrofi, Pak Arufin dan Pak Kirom adalah sama alumni pondok. Para pengadil ini saling berseloroh menceritakan masa lalunya di pesantren diselingi derai tawa dan canda hingga larut malam sambil menyeruput kopi yang disediakan.

Esok pagi usai sarapan soto Madura -makanan khas pulau garam ini- rombongan bergegas berangkat ke Sumenep untuk mengikuti acara inti yaitu pisah sambut Bapak Drs. Marwan, M.H. di PA Sumenep, perlu diketahui Pak Marwan ini sebelumnya adalah Wakil Ketua di PA Gresik yang sekarang dipromosikan sebagai Ketua PA Sumenep. Acara dimulai sekitar Pukul 08.30 WIB hadir tamu undangan dalam acara tersebut disamping rombongan dari PA Gresik yang dipimpin oleh Bu Ketua, juga dihadiri oleh Ketua PN Sumenep dan Kepala Kementerian Agama Sumenep. Acara berakhir sekitar pukul 10.30 WIB.

Setelah tuntas mengikuti acara pisah sambut, rombongan PA Gresik melanjutkan agenda wisata yang belum kelar. Rihlah dilanjutkan ke “Pantai Lombang” Sumenep. Pantai Lombang merupakan obyek wisata andalan Kabupaten Sumenep. Pantai ini memiliki panorama alam yang lebih bagus dari tetangganya, yakni Pantai Slopeng. Karakteristik panta ini adalah hamparan pasir putih nan lembut yang membentang sepanjang 12 Km dihiasi jejeran pohon cemara udang yang tumbuh lebat dibibir pantai menambah keelokan dan keteduhan pantai ini.

Setelah puas memandang pesoana alam pantai lombang, rombongan melanjutkan perjalanan wisata ke Musium dan Keraton Sumenep. Berkunjung ke Madura belum lengkap rasanya apabila tidak menyambangi Museum Keraton Sumenep. Lokasinya terletak di tengah kota, di Jalan Dr. Sutomo, Sumenep tepatnya di belakang Keraton Sumenep. Museum ini menyimpan beragam peninggalan bersejarah dari Keraton Sumenep dimana sebagian besar merupakan peninggalan bangsawan Sumenep

Di museum ini dipajang beragam koleksi menarik mulai dari kereta keraton buatan abad ke-18, keramik dari Dinasti Ming, naskah kuno, peralatan pertanian dan nelayan kuno, prasasti, arca, hingga koleksi ragam senjata seperti: keris, tombak, pedang, meriam, ada juga alat rumah tangga kerajaan, serta peralatan pribadi anggota kerajaan.

Ada pula Alquran tulisan tangan raksasa berukuran 4 X 3 meter dengan berat 500 kg. Alquran tersebut dibuat tahun 2005 oleh seorang wanita bernama Yanti dari Desa Bluto dengan waktu pembuatan selama enam bulan.

Keraton Sumenep sendiri dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I tahun 1762. Arsiteknya adalah Liaw Piau Ngo dari China yang memadukan gaya arsitektur Islam, Eropa, China, dan Jawa. Bangunannya terdiri dari bangunan induk keraton, taman sare, dan ladang museum. Disetiap ruangan terpajang berbagai benda yang menjadi saksi kekuasaan dan keberadaan Museum Keraton. Di museum ini Anda juga tersisa pemandian putri Keraton Sumenep. Akan tetapi, sayang kurang terawat dan dihuni ikan-ikan kecil.

Bagian pertama museum ini yaitu yang terdapat di luar keraton merupakan tempat menyimpan kereta kencana kerajaan Sumenep dan kereta kuda pemberian ratu Inggris. Kereta kerajaan tersebut sampai sekarang masih dipergunakan saat upacara peringatan hari jadi kota Sumenep.

Bagian kedua museum terdapat di dalam Keraton Sumenep. Dalam ruangan ini tersimpan alat-alat untuk upacara mitoni atau upacara tujuh bulan kehamilan keluarga raja. Ada juga senjata-senjata kuno berupa keris, clurit, pistol pedang, bahkan samurai dan baju besi. Beragam guci dan keramik dari Tiongkok menghiasi etalase museum seakan ingin menjelaskan eratnya jalinan hubungan antara kerajaan Sumenep dan kerajaan China.

Ada pula arca, baju kebesaran sultan dan putri Sumenep, serta kamar tidur raja Sumenep yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Tersimpan pula fosil ikan paus yang terdampar di Pantai Sumenep tahun 1977. Di museum ini juga dapat juga melihat Alquran yang ditulis oleh Sultan Abdurrachman.

Museum ini juga memiliki koleksi unik berupa piring ajaib yang dikenal dengan nama magic rower. Piring nasi tersebut diyakini memiliki kekuatan magis dimana nasi yang dihidangkan di atasnya tidak basi meskipun sudah satu minggu. Piring ini merupakan tempat nasi berbentuk oval dengan gambar Raja Sampang Condronegoro (1830) hadiah bagi raja Sumenep ke-32, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (1811-1854).

Bagian ketiga berada di dalam keraton yang disebut Museum Bindara Saod karena dahulu merupakan tempat Bindara Saod menyepi (Rumah penyepian Bindara Saod). Ruangan ini terdiri lima bagian yaitu teras rumah, kamar depan bagian timur, kamar depan bagian barat, kamar belakang bagian timur dan bagian barat. Baik Museum, Museum Kantor Koneng dan Museum Bindara Saod, ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Keraton Sumenep sendiri dikenal dengan sebutan Potre Koneng (Putri Kuning). Julukan ini diberikan karena dahulu pernah hidup seorang permaisuri yaitu Ratu Ayu Tirto Negoro. Putri ini berasal dari China dan terkenal memiliki kulit kuning bersih. Untuk menghormati sang permaisuri maka atap Keraton Sumenep diberi warna kuning cerah.

Di dalam keraton terdapat Pendopo Agung, Kantor Koneng, dan bekas Keraton Raden Ayu Tirto Negoro yang saat ini dijadikan tempat penyimpanan benda-benda kuno. Pendopo Agung sampai saat ini masih dipakai sebagai tempat diadakannya acara-acara kabupaten seperti penyambutan tamu, serah terima jabatan pemerintahan, dan acara kenegaraan lainnya. Sedangkan Kantor Koneng atau kantor raja adalah ruang kerja Sultan Abdurrachman Pakunataningrat I selama masa pemerintahannya tahun 1811 sampai 1844 Masehi.

Setelah puas melanglang wisata Kabupaten Sumenep rombongan bertolak langsung ke Gresik. Tampak wajah kuyu Pak Affan yang sejak awal paling antusias mengikuti acara tersebut, diantara rombongan asal Gresik Pak Affan paling fasih berbahasa Madura, sehingga dalam candanya beliau selalu menyelipkan cerita-cerita jenaka percakapan Madura yang mengundang gelak tawa ceria, maklum Pak Affan adalah alumni dari Pulau Putri Bawean selama 6 tahun beliau mengabdi di sana dan dengan bangganya menceritakan adat budaya penduduk lokal.(Tim IT Pagres).

Kontak

  • Jl. Wahidin Sudiro Husodo No. 45

    Gresik Jawa Timur Indonesia

  • Telp : (031)-3991193

    Fax : (031)-3981695

    Mobile: 085204163436

  • Email :

Traffic Pengunjung

Hari ini77
Kemarin115
Minggu ini548
Bulan ini3180
Semua30793

21 September 2017

Tautan

 

Jam Pelayanan

Jam Kerja
Senin - Kamis  : Pukul 07.30 - 16.00
Jum'at  : Pukul 07.00 - 16.00

Jam Pelayanan
Senin - Jum'at  : Pukul 08.00 - 15.00

Jadwal Sidang
Senin - kamis  : Pukul 09.00 - Selesai